Jakarta, CNN Indonesia --
Kementerian Kebudayaan (Kemenbud) mendapatkan anggaran sebesar Rp3,505 triliun dalam Rancangan Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (RAPBN) 2027.
Anggaran ini dinyatakan dalam tabel Belanja Kementerian Negara/Lembaga 2026-2027 di Buku II Nota Keuangan Beserta RAPBN Tahun Anggaran 2027, yang dikutip Kamis (20/8).
Angka ini mengalami peningkatan jika dibandingkan dengan APBN 2026. Sebelumnya, Kemenbud mendapatkan anggaran sebesar Rp1,507 triliun pada APBN 2026.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Anggaran sebesar Rp3,505 triliun di RAPBN 2027 ini terbagi untuk program dukungan manajemen serta program pemajuan dan pelestarian kebudayaan.
Berdasarkan dokumen yang sama, tertulis anggaran sebesar Rp1,506 triliun untuk program dukungan manajemen. Sedangkan, anggaran sebesar Rp1,998 triliun dialokasikan untuk program pemajuan dan pelestarian kebudayaan.
Pemanfaatan khazanah budaya dan pengembangan kawasan pemajuan kebudayaan, yang menjadi salah satu tanggung jawab Kementerian Kebudayaan, memang menjadi salah satu kegiatan prioritas utama dalam Rencana Pembangunan Jangka Menengah Nasional Tahun 2025-2029.
Di bawah kepemimpinan Menteri Kebudayaan Fadli Zon, Kementerian Kebudayaan telah menjalankan sejumlah program yang menarik perhatian publik.
Yang terbaru adalah Aksara Nusantara, proyek sistem tulisan nasional baru yang dirancang menggunakan metode filologi, linguistik, dan abugida. Pada Rabu (12/8) lalu, Menteri Kebudayaan RI menginstruksikan agar Aksara Nusantara segera disosialisasikan secara masif.
Kementerian Kebudayaan juga menyatakan komitmennya dalam upaya revitalisasi aset cagar budaya, seperti museum-museum, candi, masjid-masjid tua, gereja, benteng, hingga keraton. "Mungkin ada sekitar lebih dari 100, lah, yang akan dilaksanakan tahun ini pada tahap awal," ujar Fadli Zon, dikutip dari Instagram @kemenkebud, (31/7).
Tahun lalu, Kementerian Kebudayaan juga meluncurkan buku rujukan terbaru sejarah Indonesia dari pemerintah. Buku berjudul "Sejarah Indonesia: Dinamika Kebangsaan dalam Arus Global" yang diluncurkan pada 14 Desember 2025 ini terdiri dari 10 jilid.
Secara lengkapnya, buku ini memuat perjalanan panjang bangsa Indonesia dari akar peradaban Nusantara, interaksi global dengan India, Tiongkok, Persia, Timur Tengah, hingga Barat, masa kolonial, pergerakan kebangsaan, perjuangan mempertahankan kemerdekaan, konsolidasi negara, era Orde Baru, hingga reformasi dan konsolidasi demokrasi sampai 2024.
Proses penulisan buku ini melibatkan hingga 123 sejarawan dan difasilitasi oleh Kementerian Kebudayaan melalui Direktorat Sejarah. Direktorat Sejarah di bawah Kementerian Kebudayaan sendiri baru kembali dihidupkan setelah sebelumnya tidak aktif.
(muo/isn)

2 hours ago
9

















































