Operasi Ditutup, Nasib Korban KMP Mutiara yang Hilang Masih Misteri

20 hours ago 11

Surabaya, CNN Indonesia --

Operasi SAR khusus kedaruratan pencarian korban KMP Mutiara Sentosa II yang terbakar di perairan utara Sumenep, Pulau Madura, Jawa Timur (Jatim) telah resmi ditutup, Selasa (4/8) kemarin.

Tapi sejumlah keluarga korban insiden kebakaran KMP Mutiara Sentosa II masih mencari keberadaan sanak saudara mereka yang hilang dan belum ditemukan hingga kini.

Sejumlah keluarga cemas karena kerabatnya yang diduga ada di KMP Mutiara Sentosa II saat kejadian, tapi belum ditemukan hingga kini.

ADVERTISEMENT

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Nama-nama mereka juga tidak tercantum dalam daftar korban yang telah dievakuasi, baik dalam kondisi selamat maupun yang meninggal dunia.

Anton, salah satu keluarga korban, masih menunggu kepastian nasib Abdul Manan, saudaranya yang bekerja sebagai koki atau kru KMP Mutiara Sentosa II. Ia mengaku sudah mengonfirmasi langsung ke petugas di posko pencarian, namun hasilnya nihil.

"Setelah dicari enggak ada, sudah dikonfirmasi. Tadi waktu ke masuk posko sudah tanya, jawabannya berusaha dicari sama petugas," kata Anton ditemui di posko terpadu di Terminal Gapura Surya Nusantara (GSN) Pelabuhan Tanjung Perak, Surabaya, Rabu (5/8).

Anton menyatakan Abdul Manan merupakan bagian dari kru kapal. Kerabatnya itu sudah bekerja di KMP Mutiara Sentosa II milik PT Atosim Lampung Pelayaran (ALP) selama satu hingga dua tahun terakhir.

Ia menyebut kontak terakhir keluarga dengan Abdul Manan terjadi saat proses pemuatan kapal. Setelahnya tak ada kontak lagi.

"Ya waktu di pemuatan kapal. Ya kan enggak ada yang bisa dihubungi, semua HP mati semua," ucapnya.

Anton mengatakan, pihak keluarga juga sudah meminta informasi ke PT ALP, perusahaan tempat Abdul Manan bekerja. Mereka berjanji turut membantu proses pencarian.

"Sudah, katanya kita masih sama-sama berusaha cari," katanya.

Kisah serupa dialami Muhammad Jasuar Bustam, warga Kabupaten Takalar, Sulawesi Selatan.

Bersama Samsiah, ibunya, Jasuar mendatangi posko dengan harapan memperoleh kabar mengenai sang ayah, Bustam Sanusi atau yang akrab disapa Daeng Nappak, yang belum diketahui keberadaannya hingga kini.

"Saya anaknya. Bapak sopir asal Makasar. Sekarang nggak ada kabarnya, nggak ada namanya," kata Jasuar.

Jasuar mengatakan, komunikasi terakhir itu terjadi melalui video yang dikirim ayahnya sekitar pukul 09.00 WIB, Minggu, (2/8). Hanya beberapa jam berselang, ponsel milik Bustam Sanusi sudah tidak dapat dihubungi lagi.

"Bapak yang kirim video jam 09.00 pagi. Setelah itu saya hubungi kembali 11.47 sudah tidak aktif," ujarnya.

Hasanudin, teman keluarga korban yang turut mendampingi, menuturkan kronologi dari rekan Bustam Sanusi yang selamat. Menurut cerita itu, korban sempat ditolong naik ke atas kapal, namun kembali terjatuh hingga tiga kali lantaran pelampungnya terlepas.

"Kalau tadi itu ceritanya berdasarkan temannya. Dia sudah ditolong teman, dinaikkan lagi, jatuh lagi, sampai tiga kali. Ceritanya pelampungnya lepas. Hilang. Itu cerita dari temannya yang selamat, kemarin temannya datang," kata Hasanudin.

Meski operasi SAR khusus kedaruratan telah ditutup, Jasuar dan keluarganya memilih tetap bertahan di Surabaya untuk mengikuti perkembangan pencarian.

Ia menambahkan, proses evakuasi diri saat kejadian memang sulit dilakukan sekalipun ada yang berusaha menolong.

"Ditolong, tapi kan juga anu (menyelamatkan) dirinya sendiri juga. Kan susah juga," ujarnya.

Ia turut mempertanyakan mengapa nama Bustam Sanusi tidak tercantum dalam daftar penumpang yang dievakuasi, sementara terdapat bukti video yang menunjukkan korban berada di atas kapal.

"Tiketnya [nama] orang lain. Mobilnya mobil pengganti," kata Hasanudin, merujuk pada dugaan penyebab ketidaksesuaian data tersebut.

Hasanudin pun berharap proses pencarian tetap dilanjutkan mengingat masih ada korban yang belum ditemukan.

"Harapannya besar pencarian terus dilaksanakan. Masih beberapa hari ini pak, dan ada korban yang belum ditemukan," ujarnya.

Hasanudin turut mengungkap satu nama lain yang juga belum ditemukan, yakni Andik Herman, rekan kerja Bustam Sanusi yang sama-sama berprofesi sebagai sopir.

"Andik Herman juga tidak ada. Itu masih satu kerjaan, sopir juga. Andik Herman dan Bustam Sanusi yang belum ketemu," ujarnya.

Keluarga korban lain, Tarjo, yang berprofesi sebagai pengurus gudang di PT Lintas Krayon, turut kehilangan sopirnya bernama Abdurrahman (51). Tarjo mengaku telah memantau data korban sejak hari kejadian, namun hingga hari ini nama sopirnya tak kunjung muncul.

"Minggu, ya hari Minggu saya ikutin sampai dari siang sampai malam itu, sampai pagi lagi saya ikutin. Nah ternyata tadi pas press conference kok cuma 238," katanya.

Tarjo meyakini Abdurrahman benar berangkat menggunakan KMP Mutiara Sentosa II berdasarkan bukti pembelian tiket resmi, serta riwayat komunikasi dan bukti video terakhir.

"Lah terus saudara saya yang ada tiketnya, nah ada tiketnya, saya tunjukin. Yakin, karena ada history terakhir dia kirim laporan. Dan ada video tadi mobil yang masuk. Tanggal 1 Agustus, jam 9 pagi, posisinya di kapal," katanya.

Tarjo pun mempertanyakan mengapa data resmi seperti tiket, video, dan foto terakhir korban tidak cukup untuk memasukkan nama Abdurrahman ke dalam manifes penumpang.

"Cuma yang saya tidak terimanya, kok bisanya gitu loh, di sini dia ada tiket resmi, ada video, ada foto terakhir, kok bisa tidak masuk daftarnya di manifes? Itu, yang jadi pertanyaan," ujarnya.

Ia mengaku pasrah dengan segala kemungkinan yang akan dihadapi keluarga, namun tetap berharap Abdurrahman bisa ditemukan.

Penjelasan pemerintah dan Basarnas

Sementara itu, Wakil Menteri Perhubungan Suntana menyatakan pihaknya akan menelusuri laporan-laporan mengenai korban yang belum ditemukan, menyusul sejumlah keluarga yang mengaku kerabatnya tidak tercantum dalam daftar korban resmi.

"Kami sedang konfirmasi ulang. Bila memang itu benar, kami sedang melakukan pencarian loh, tidak berhenti loh. Tidak berhenti kita, kita tetap melakukan pencarian. Kita akan konfirmasi," kata Suntana.

"Apapun informasi tentang keberadaan korban yang ditemukan, pemerintah bertanggung jawab untuk itu. Kita akan memeriksa itu, akan melakukan investigasi. Ya? Kita akan menerima laporan-laporan ini, proses pengaduan kita, Pak," tambahnya.

Sementara itu, Kepala Basarnas Marsekal Madya TNI Mohammad Syafii menyatakan meski operasi pencarian dan penyelamatan korban kejadian kebakaran KMP Mutiara Sentosa II sudah resmi ditutup, bukan berarti tak akan ada lagi operasi SAR.

Syafii menyebut operasi rutin yang dilakukan Basarnas Surabaya akan difokuskan di sekitar lokasi kejadian kebakaran.

"Pelaksanaan operasi rutin ini tetap akan kami fokuskan kepada perairan di mana lokasi kejadian terjadi," ujarnya saat konferensi pers di Pelabuhan Tanjung Perak Surabaya, Selasa (4/8).

Ia menegaskan, operasi pencarian akan kembali dilakukan bila ada laporan warga soal belum ditemukannya anggota keluarganya dalam kejadian itu.

"Sambil menunggu kita juga memiliki posko-posko aduan. Kita semuanya berharap tidak sampai ada pengaduan adanya keluarga yang belum ditemukan. Dan andai saja ada pengaduan itu, tentunya operasi akan kita laksanakan disesuaikan dengan situasi kondisi yang ada. Kita akan buka operasi lagi untuk melaksanakan pencarian," ujarnya.

Sementara itu, dia menjelaskan operasi SAR resmi ditutup, karena sudah ada kesesuaian data jumlah manifes dan rincian yang telah dievakuasi--termasuk korban meninggal.

Syafii mengatakan total jumlah penumpang KMP Mutiara Sentosa II yang dievakuasi sebanyak 238 orang, dengan rincian 233 selamat, sementara 5 lainnya dalam kondisi meninggal dunia. Angka itu, kata dia, sudah termasuk penumpang, anak buah kapal (ABK) dan tenaga bantuan operasional kapal.

"Sementara bisa kita sinkronkan bahwa jumlah korban dan juga jumlah penumpang yang ada di dalam kapal sementara sesuai," ucapnya.

(frd/kid)

[Gambas:Video CNN]

Read Entire Article
Kasus | | | |