Pemprov Jabar Buka Suara soal Yurizal Warga Bogor Dicibir Banyak Nakes

5 hours ago 7

Bandung, CNN Indonesia --

Dunia medis di Indonesia saat ini sedang terguncang oleh aksi nirempatik sejumlah tenaga kesehatan (nakes) terhadap curhatan pasien BPJS Kesehatan di akun media sosial.

Pasien BPJS itu adalah pemilik akun Threads @yurizaltrich, yang menulis curhatan saat berjam-jam menunggu ruang rawat di rumah sakit (RS)--dia tak menyatakan tak akan menyebut jelas nama RS tempatnya dirawat. Curhatan itu kemudian mendapatkan cibiran negatif, yang belakangan baru diketahui beberapa di antara mereka adalah nakes. Salah satunya pegawai RSUD di Tasikmalaya, Jawa Barat.

Empunya akun yang bernama Yurizal Tri Chaerawan--dan belakangan diketahui warga Bogor, Jawa Barat--meninggal dunia pada 31 Juli lalu, dan diduga akibat terlambat mendapatkan perawatan medis lebih lanjut.

ADVERTISEMENT

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Merespons hal tersebut, Pemprov Jabar pun buka suara. Gubernur Jabar Dedi Mulyadi mengatakan pelayanan publik di bidang kesehatan harus mengedepankan etika dan rasa empati.

Hal itu disampaikannya saat ditanya awak media di Gedung DPRD Jabar pada tengah pekan ini perihal diduga nakes di RSUD Tasikmalaya melayangkan komentar nirempati ke pasien BPJS.

Dia menyebut nakes tidak boleh menyampaikan perkataan tidak pantas hingga melukai pasien dan keluarganya. Sehingga, pihak pemprov akan menyerahkan kewenangan penindakan itu ke Pemkab/Pemkot terkait.

Dedi menekankan bahwa aturan dan etika profesi harus ditegakkan agar kejadian serupa tidak terulang dan merugikan masyarakat yang membutuhkan pelayanan medis.

"Nanti kan pasti ada ketentuan yang bisa diterapkan dalam bentuk sanksi kepada Nakes tersebut," tegas Dedi dalam wawancara yang dikutip di akun media sosialnya tersebut.

"Artinya di bawah kewenangan wali kota. Nanti saya minta wali kota memberikan sanksi sesuai ketentuan yang berlaku ya. Jadi tidak boleh namanya pelayan kemudian mengungkapkan, menyampaikan perkataan yang tidak pantas, apalagi pada pasien yang meninggal," sambungnya.

Belakangan diketahui pegawai berinisial NZ di RSUD dr Soekardjo, Tasikmalaya sudah mengajukan mengundurkan diri buntut gelombang kritik publik terhadap nakes yang mencibir unggahan Yurizal. Pengunduran diri NZ itu pun dikonfirmasi Direktur RSUD dr Soekardjo, dr Budi Tirmadi.

Dia mengatakan, pihaknya telah menerima surat pengunduran diri dari warga Kecamatan Tamansari tersebut pada Kamis (6/8) pagi.

Selanjutnya, manajemen rumah sakit berkoordinasi dengan BKPSDM untuk menindaklanjuti status kepegawaian NZ. Secara administratif, NZ merupakan staf bagian administrasi dengan status PPPK Paruh Waktu yang telah bekerja selama lebih dari lima tahun.

"Kita lihat saja dan menunggu tindakan BKPSDM. Yang bersangkutan itu kerja sudah 5 tahun lebih, kalau diangkat PPPK Paruh Waktu kontraknya per September," ujar Budi, dikutip dari detikJabar.

Terkait alasan pengunduran diri, Budi menyebut faktor kesehatan menjadi poin utama yang disampaikan NZ dalam suratnya.

Namun, dia tak merinci apakah kondisi tersebut berkaitan dengan tekanan dari warganet atau hal lain terhadap nakes yang mencibir pasien BPJS Kesehatan. Budi juga memberikan klarifikasi untuk meluruskan persepsi publik mengenai profesi NZ di rumah sakit.

"Saya tidak bisa berbicara jauh dan itu alasan yang dikemukakan bersangkutan. Dan hari kemarin hari terakhir kerja," tuturnya. Ia menambahkan, "Perlu diklarifikasi bahwa yang bersangkutan itu bukan tenaga kesehatan tapi staf administrasi biasa,".

Sebelum memutuskan mundur, NZ sempat mengunggah video permintaan maaf melalui akun media sosial pribadinya. Dalam pernyataan tersebut, ia mengaku menyesal dan menyatakan kesiapan untuk menerima sanksi atas tindakannya yang memicu kegaduhan di ruang publik.

Curhatan Yurizal via Threads saat menunggu ruang perawatan itu--dalam unggahan pada 22 Juli 2026 tersebut dia tak menyebut nama rumah sakitnya--itu kemudian dibanjiri komentar, termasuk banyak di antaranya pernyataan nirempati dari para akun yang kemudian diketahui sebagai tenaga kesehatan (nakes).

Yurizal kemudian dikabarkan wafat pada 31 Juli 2026, dan kerabatnya mengatakan salah satu sebab karena terlambat mendapat perawatan lebih dalam. Belakangan setelah penelusuran, Kemenkes menyatakan Yurizal itu menunggu hingga 8 jam di IGD RSCM, Jakarta Pusat.

Dirjen Kesehatan Lanjutan Kemenkes Azhar Jaya menyebut lamanya waktu tunggu, bukan karena pasien tidak mendapat penanganan di IGD. Melainkan karena membutuhkan perawatan di High Care Unit (HCU), sementara kapasitas ruang tersebut terbatas.

Ia mengatakan RSCM merupakan rumah sakit rujukan nasional, sehingga tingkat keterisian fasilitas perawatan cukup tinggi. Menurutnya, kondisi itu pun turut memengaruhi waktu pemindahan pasien dari IGD ke ruang perawatan yang dibutuhkan.

"Prinsipnya di RSCM adalah pusat rujukan nasional, kemungkinan besar RSCM penuh itu sangat besar. Tapi apa harus menunggu 8 jam itu tergantung situasi, kalau kosong ya lebih cepat dari itu," kata pria yang akrab disapa Aco tersebut, Kamis (6/8).

Azhar menjelaskan Yurizal tidak membutuhkan kamar rawat inap biasa. Kondisi pasien mengharuskannya mendapatkan perawatan di HCU yang memiliki jumlah tempat tidur terbatas.

"Kondisi pasien yang meninggal dan viral itu memang menunggu 8 jam karena butuh HCU yang jumlahnya terbatas dan bukan kamar rawat inap biasa," ujarnya.

Selain membutuhkan perawatan khusus, Yurizal disebut juga memiliki penyakit penyerta dengan kondisi yang cukup berat. Meski begitu, Kemenkes tidak mengungkap diagnosis pasien karena alasan kerahasiaan medis.

"Pihak keluarga sudah paham akan kasus ini," klaimnya.

Hingga berita ini ditulis, CNNIndonesia.com belum dapat menjangkau pihak keluarga almarhum. Namun berdasarkan penelusuran akun Threads, serta akun media sosial Instagram (IG) yang terkait almarhum, diketahui yang bersangkutan adalah warga Bogor, Jawa Barat.

Selain itu, lewat unggahan di akun Threads @yanifiltania, pada Kamis (6/8), mengunggah pernyataan resmi keluarga Yurizal.

Dia menyatakan pihak keluarga besar almarhum menyatakan  seluruh proses terkait peristiwa dugaan sikap ketidakpastian tenaga medis yang sempat menyita perhatian publik di media sosial telah dianggap selesai.

Pihak keluarga berharap persoalan tersebut tidak lagi diperpanjang maupun menjadi bahan pembahasan di ruang publik.

@yanifiltania, mewakili keluarga almarhum, membuat permohonan kepada rekan media dan masyarakat umum untuk memberikan ruang serta ketenangan bagi keluarga yang saat ini masih dalam suasana duka.

"Kami masih berada dalam suasana duka dan memerlukan waktu serta ketenangan untuk menjalani masa berkabung. Dengan segala hormat, kami memohon kepada rekan-rekan media maupun pihak-pihak lainnya agar tidak lagi menghubungi anggota keluarga kami melalui berbagai saluran komunikasi," tulis pernyataan resmi keluarga almarhum Yutrizal.

Selain memohon pengertian atas privasi mereka, pihak keluarga juga mengutarakan rasa terima kasih yang mendalam kepada publik dan semua pihak yang telah memberikan perhatian serta dukungan moral selama masa-masa sulit ini.

"Kami menyampaikan rasa terima kasih yang sebesar-besarnya kepada seluruh pihak yang telah memberikan doa, dukungan, perhatian, dan simpati kepada almarhum serta kepada keluarga kami. Semoga segala kebaikan yang telah diberikan mendapat balasan yang berlipat ganda dari Tuhan Yang Maha Esa," lanjut pernyataan tersebut.

(csr/kid)

Read Entire Article
Kasus | | | |