PSI Sebut Jokowi Tak Tahu Bakal Injak Kepala Kerbau di Lampung

14 hours ago 6

Jakarta, CNN Indonesia --

Presiden ke-7 RI Joko Widodo (Jokowi) mengaku sudah memprediksi prosesi adat menginjak kepala kerbau saat safari ke Lampung beberapa waktu lalu bakal ramai dan menjadi perbincangan.

Ketua DPP PSI Bestari Barus mengatakan Jokowi juga tak mengetahui akan ada prosesi tersebut. Ia menyebut Jokowi hanya mengikuti agenda adat itu sebagai penghormatan.

"Sehingga kemudian itu, pada saat beliau naik ke panggung juga beliau sudah sadari itu kemarin, semalam beliau bercerita, kami sedang di Solo ini. Jadi, apa sih sebetulnya ini, beliau juga menyatakan 'Wah, saya ndak tahu kalau ada kepala itu, kerbau'. Begitu naik beliau melihat ada kepala kerbau," kata Bestari.

ADVERTISEMENT

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

"Dan disuruh duduk di depannya kepala kerbau, beliau sempat bergumam gitu, 'Wah ini nanti ramai ini'," tambahnya.

Bestari kembali menekankan bahwa prosesi itu tetap dilaksanakan guna menghormati adat wilayah setempat.

Ia pun menyerahkan pemaknaan prosesi itu kembali ke masyarakat sekaligus menegaskan bahwa Jokowi sedang tidak bermain peran seperti bintang film.

"Ya biarlah nanti masyarakat yang memberi penilaian, yang jelas Pak Jokowi tidak sedang, bukan sedang lagi main sinetron di situ, tapi sesuai dengan apa yang diarahkan para tetua adat setempat itu, gitu," kata dia.

Jokowi menginjak kepala kerbau dalam kunjungannya ke Lampung pekan lalu. Saat itu, ia menerima gelar 'Baginda Pemuka Bangsa'. Jokowi duduk di sebuah kursi lengkap dengan pakaian adat setempat, menginjak kepala kerbau yang diletakkan di atas karpet merah.

Budayawan Lampung yang juga Dewan Pakar Majelis Penyimbang Adat Lampung (MPAL) Admi Syarif menjelaskan prosesi menginjak kepala kerbau merupakan bagian dari tradisi sakral budaya masyarakat Lampung yang sudah berusia ratusan tahun.

Prosesi injak kepala kerbau diadakan pada Upacara Begawi Cakak Pepadun, yaitu pengangkatan seseorang saat memperoleh kedudukan adat tertinggi atau naik tahta sebagai penyeimbang atau pemimpin adat. Ritual ini melambangkan pembersihan sifat-sifat buruk seperti kesombongan, iri dengki, dan ketamakan, serta bentuk penghormatan kepada tokoh yang dianugerahi gelar adat.

Baca selengkapnya di sini.

(mnf/isn)

Add as a preferred
source on Google

[Gambas:Video CNN]

Read Entire Article
Kasus | | | |