Orang Utan Masuk Permukiman Kalteng Imbas Hutan Dikepung Asap Karhutla

8 hours ago 10

Jakarta, CNN Indonesia --

Bencana kebakaran hutan dan lahan (karhutla) yang mengepung wilayah Kabupaten Kotawaringin Timur (Kotim), Kalimantan Tengah, memaksa satwa liar seperti orang utan keluar dari habitat aslinya.

Satwa-satwa dilindungi tersebut terpaksa menyelamatkan diri dan mencari perlindungan di area perkebunan warga.

Balai Konservasi Sumber Daya Alam (BKSDA) Kalimantan Tengah melaporkan fenomena orang utan masuk permukiman di Kalteng ini diduga kuat dipicu oleh pekatnya asap dan api yang mengancam nyawa satwa di habitat mereka.

ADVERTISEMENT

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

"Di sekitar lokasi banyak terlihat asap kebakaran. Dugaan kuat kami, orang utan itu menghindari kebakaran dan asap kemudian masuk ke kebun atau ladang warga yang relatif lebih aman," kata Komandan BKSDA Resort Sampit, Muriansyah, seusai meninjau lokasi kemunculan orang utan di kawasan perkebunan warga di Jalan Jenderal Sudirman Km 15, Sampit, Senin (10/8).

Berdasarkan hasil observasi BKSDA bersama pelapor bernama Fahmi, setidaknya terdapat 15 batang kelapa sawit milik warga yang rusak akibat dijadikan sasaran pakan oleh satwa tersebut. Walaupun orang utan tidak ditemukan saat penyisiran, petugas berhasil menemukan satu sarang orang utan kelas tiga di lokasi.

"Dari bekas pelepah kelapa sawit yang dimakan dan kondisi bekasnya, kami memperkirakan aktivitas itu terjadi sekitar dua sampai empat minggu lalu. Jadi, orang utannya kemungkinan sudah bergerak ke lokasi lain," ujar Muriansyah.

Temuan pergerakan satwa ini bukan yang pertama kali terjadi. Sekitar sepekan lalu, laporan kemunculan orang utan juga terjadi di Desa Bapanggang Raya, Kecamatan Mentawa Baru Ketapang. Luasnya area perkebunan warga yang saling terhubung membuat primata ini dapat berpindah dengan cepat.

"Entah ke mana dia (orang utan) bergerak, karena kebun warga di sana itu cukup luas, kebanyakan kebun karet dan diubah sudah sebagian ke kelapa sawit," ucapnya.

BKSDA memprediksi pergerakan ini masih akan terjadi di beberapa wilayah lain yang rawan terbakar. Salah satu kawasan yang diduga kuat menjadi jalur perpindahan satwa adalah Jalan Jaksa atau jalur lurus Jalan Samekto menuju Desa Kandan.

"Di lokasi itu sebelumnya juga ada orang utan. Jadi, kami menduga masih ada satwa yang bergerak mencari kawasan yang lebih aman setelah terjadi kebakaran," ungkapnya.

Lebih lanjut, kebakaran ini juga berdampak fatal bagi satwa liar yang pergerakannya tidak cukup gesit. Sebelumnya, petugas menerima laporan temuan sejumlah ular yang mati terbakar di kawasan Jalan Lingkar Selatan, Sampit. BKSDA menduga jumlah satwa yang menjadi korban terpanggang api jauh lebih banyak dan mati di dalam sarang.

"Satwa yang masih bisa lari akan berusaha menjauh dari kebakaran. Tetapi yang tidak sempat menyelamatkan diri bisa mati terpanggang, seperti beberapa ular yang ditemukan mati terbakar," tuturnya.

Perpindahan satwa ke area permukiman ini tentu memicu kekhawatiran karena meningkatkan potensi konflik antara manusia dan satwa liar. Kebun warga kerap menjadi tujuan pelarian satwa lantaran masih memiliki sumber air serta pakan pengganti, seperti umbut kelapa sawit dan nanas.

Guna mencegah terjadinya hal-hal yang tidak diinginkan, BKSDA mengimbau masyarakat untuk tidak menggunakan api saat membersihkan lahan. Warga juga dilarang keras untuk menyakiti maupun memprovokasi satwa yang tengah mencari perlindungan.

"Kalau bertemu satwa liar, jangan berusaha menangkap atau membunuhnya. Segera laporkan kepada petugas BKSDA agar bisa ditangani dengan aman," tegasnya.

Ia pun meminta partisipasi aktif warga untuk segera menginformasikan ke pihak berwenang apabila kembali melihat orang utan atau satwa dilindungi lainnya.

"Laporan cepat diperlukan agar petugas dapat melakukan pemantauan dan mengambil langkah penanganan sebelum terjadi konflik antara satwa dan manusia," demikian Muriansyah.

(antara)

[Gambas:Video CNN]

Read Entire Article
Kasus | | | |