Jakarta, CNN Indonesia --
Kementerian Agama (Kemenag) RI melalui Wakil Menteri Agama (Wamenag) Romo Muhammad Syafii buka suara soal peristiwa tantangan (challenge) hafalan Surah Al-Qur'an (QS) Ad-Dhuha untuk mendapatkan minuman keras (miras) di salah satu stan pada festival musik, Jakarta, akhir pekan lalu.
Potongan video peristiwa di Festival Musik The Sounds Project yang digelar di Ancol, Jakarta Utara, itu viral di media sosial. MUI telah melakukan kecaman, dan perkara itu diusut kepolisian setelah ada laporan warga.
Wamenag minta semua pihak, termasuk penyelenggara kegiatan untuk lebih berhati-hati dalam menggunakan atribut, simbol, kitab, dan pesan keagamaan, saat mempromosikan produk. Dia juga meminta aparat untuk mengambil tindakan secara professional, dan berharap kejadian yang sama tidak terulang.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
"Saya meminta aparat penegak hukum mengusut secara menyeluruh dan profesional, termasuk siapa yang membuat konsep, memberikan persetujuan, melaksanakan, dan bertanggung jawab atas kegiatan tersebut. Jika terdapat pelanggaran hukum, harus ada konsekuensi yang tegas sesuai ketentuan yang berlaku," tegasnya, Jakarta, Rabu (12/8), dikutip dari situs resmi Kemenag.
Dia pun berharap warga tak main hakim sendiri, dan mempercayakan penanganan kasus tersebut kepada kepolisian sesuai koridor hukum yang berlaku. Namun, dia menegaskan di masa mendatang tak boleh ada lagi kasus-kasus serupa.
"Kepada masyarakat, mari tetap tenang serta percayakan prosesnya kepada hukum. Kebebasan berekspresi harus berjalan bersama tanggung jawab. Kasus ini harus menjadi yang terakhir, bukan karena kita melupakannya, tetapi karena kita menjadikannya dasar untuk mencegahnya terulang kembali," katanya.
Wamenag mengajak semua pihak untuk belajar dari kasus Holywings pada 2022. Saat itu, promosi minuman beralkohol menggunakan nama "Muhammad" dan "Maria".
Peristiwa tersebut berujung pada proses hukum dan menjadi pelajaran bahwa kebebasan berekspresi memiliki batas ketika memasuki wilayah penghormatan terhadap agama dan keyakinan masyarakat.
Romo Syafi'i menegaskan Al-Qur'an sebagai Kitab Suci Umat Islam bukanlah bahan hiburan, apalagi sampai dijadikan gimik pemasaran. Menurutnya ayat suci memiliki kedudukan yang sakral bagi umat Islam dan harus dihormati.
"Kepada pelaku usaha dan penyelenggara kegiatan, saya tegaskan jangan mengejar keuntungan dan viralitas dengan menjadikan agama sebagai komoditas," sebutnya di Jakarta, Rabu (12/8).
"Saya juga mendorong agar kasus ini menjadi momentum untuk membangun aturan dan pedoman yang jelas, sehingga tidak terjadi lagi penggunaan agama sebagai bahan promosi, candaan, atau strategi mendapatkan keuntungan," sambungnya.
Dalam perkara ini, kepolisian telah mengamankan dua terduga pelaku terkait tantangan hafalan Al-Qur'an untuk ditukar dengan minuman keras (miras) di festival musik The Sounds Project. Kedua terduga pelaku itu yakni perempuan berinisial R dan laki-laki berinisial E.
"Pelaku penistaan saat ini sudah diamankan di Polres Metro Jakarta Utara," kata Plh Kapolres Metro Jakarta Utara, Kombes Oki Waskito kepada wartawan, Rabu kemarin.
Sementara itu, pada unggahan di akun media sosial Instagram resmi The Sounds Project selaku penyelenggara pun buka suara awal pekan ini.
"Kami sebagai penyelenggara acara turut merasa marah, kecewa, dan mengecam perilaku tersebut. Kami tidak pernah, dan tidak akan pernah, membenarkan perilaku yang menjadikan agama sebagai bahan challenge atau promosi produk dalam bentuk apa pun," demikian pernyataan resmi yang dikutip dari akun Instagram The Sounds Project.
"Kami tegaskan bahwa kejadian tersebut sepenuhnya di luar arahan, persetujuan, dan kendali kami sebagai penyelenggara acara," imbuhnya.
Pemandu acara atau MC di booth Newport dalam acara The Sounds Project juga telah meminta maaf secara terbuka. Hal itu disampaikan lewat akun media sosial Threads, aqueer_, yang dimiliki Revnaldo Ega.
"Saya Ega, selaku MC booth Newport pada Minggu, 9 Agustus 2026, memohon maaf atas kejadian yang terjadi saat acara berlangsung," kata dia.
"Kejadian tersebut merupakan aksi spontan audiens dan tidak terkait dengan pihak Newport. Saya mengakui kelalaian dalam mengendalikan situasi dan menjadikannya pembelajaran untuk lebih sigap dan bertanggung jawab ke depannya," imbuhnya.
Kemudian, manajemen Newport juga menyampaikan permintaan maaf atas kegaduhan buntut kasus promosi miras tersebut.
Direktur Newport, Handoko Sasongko mengklaim bahwa aktivitas itu bukan merupakan program, konsep promosi, challenge, maupun arahan yang dibuat atau direncanakan oleh Newport. Ia pun mengklaim aktivitas itu muncul secara spontan dari pengunjung yang berada di lokasi.
"Kami menyesali adanya kelalaian dalam pengawasan di lapangan, sehingga tindakan yang tidak sesuai dengan nilai-nilai agama, keyakinan, budaya serta adat istiadat yang dijunjung oleh masyarakat dapat terjadi," ucap dia.
(kid)

2 hours ago
2

















































