Jakarta, CNN Indonesia --
Anggota DPR dari Fraksi PDIP Bonnie Triyana menyebut teror penyiraman air keras terhadap Wakil Koordinator KontraS Andrie Yunus merupakan bentuk nyata darurat HAM di Indonesia saat ini.
Bonnie menilai kasus tersebut bukan hanya aksi kriminal biasa, melainkan juga serangan terhadap sejarah panjang perjuangan hak asasi manusia di Indonesia.
"Penyiraman air keras terhadap Andrie Yunus yang merupakan perbuatan tidak berperikemanusiaan dan bentuk nyata darurat HAM dan bentuk praktik antidemokrasi di Indonesia," ujar Bonnie dalam keterangannya, Sabtu (14/3).
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Menurut Bonnie, sejarah mencatat kekerasan terhadap aktivis tidak pernah berhasil memberangus kebebasan berpendapat. Sebaliknya, teror justru membuat gerakan sipil bangkit dan semakin kuat.
Teror terhadap Andrie, tambah dia, mengingatkan pada catatan sejarah kekerasan terhadap aktivis Indonesia, mulai dari penculikan aktivis 1997/1998, pembunuhan Marsinah (1993), hingga Munir (2004).
Bonnie mengingatkan, proklamator Indonesia, Sukarno, adalah seorang aktivis yang berulang kali dipenjara dan diasingkan karena suara kritisnya melawan kolonialisme.
Begitu pula dengan Ketua Umum PDIP Megawati Soekarnoputri yang juga mengalami masa-masa saat demokrasi dipasung dan suara kritis dibungkam selama Orde Baru.
"Seharusnya pengalaman pahit itu menjadi pelajaran berharga bahwa kekerasan dan pembungkaman tidak pernah membawa kebaikan bagi bangsa," ujar Bonnie.
Oleh karena itu, ujar dia, ironis di era reformasi yang lahir dari semangat demokrasi, seorang pembela HAM malah disiram air keras hanya karena berbicara.
Bonnie pun mendesak aparat kepolisian menangkap pelaku dan membongkar aktor intelektual di balik serangan terhadap Andrie.
Pelaku harus dijerat dengan pasal berlapis, termasuk Pasal 459 KUHP tentang percobaan pembunuhan berencana dengan ancaman pidana maksimal.
"Negara melalui aparat penegak hukum memiliki tanggung jawab moral dan konstitusional untuk memastikan kasus kekerasan terhadap aktivis tidak berakhir impunitas sebagaimana banyak terjadi di masa lalu," ujarnya.
Andrie mengalami teror penyiraman air keras saat menaiki sepeda motor di kawasan Salemba, Jakarta Timur, usai menghadiri siniar di kantor YLBHI, Kamis (12/3) malam.
Koordinator KontraS Dimas Bagus Arya mengungkap ciri-ciri dari terduga pelaku yang pertama mengenakan kaos berwarna kombinasi putih-biru, celana gelap diduga jeans, dan helm berwarna hitam.
Sementara, pelaku kedua yakni penumpang menggunakan penutup wajah atau masker menyerupai 'buf' berwarna hitam yang menutupi setengah wajah, kaos berwarna biru tua, dan celana panjang berwarna biru yang dilipat menjadi pendek dan diduga berbahan jeans.
"Salah satu pelaku kemudian menyiramkan air keras ke arah korban hingga mengenai sebagian tubuh korban. Akibat serangan tersebut, korban langsung berteriak kesakitan hingga menjatuhkan motornya," jelasnya lewat keterangan tertulis.
(thr/sfr)
Add
as a preferred source on Google

8 hours ago
10
















































